Saturday, 07 August 2010
PERJALANAN hidup Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI),penuh liku. Tidak sedikit kisah memilukan yang harus dijalani pria kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976 ini untuk menggapai cita-citanya.
Peraih gelar doktor dari bidang strategic and international management dari University of Pau et Pays de’l Adour,Prancis,pada 2005 ini menghabiskan masa kecilnya hingga SMA di kota kelahirannya, Surabaya. Firmanzah dilahirkan dari keluarga sederhana, dia merupakan anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ibunya,Kusweni, seorang yang buta huruf. Kendati begitu, bagi Firmanzah sosok ibu merupakan tokoh sentral yang memengaruhi perjalanan hidupnya. Sejak usia 2 tahun Firmanzah sudah hidup tanpa ayah karena perceraian.
Sejak saat itu hingga sekarang, Firmanzah tidak mengetahui di mana keberadaan Abdul Latif, ayahnya. Yang dia tahu berdasarkan cerita ibunya, sang ayah pernah bekerja sebagai teknisi di Schlumberger, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas. Sang ibu yang membentuk karakter Firmanzah lebih menghargai orang lain. Karena itu,Firmanzah menyebut ibunya yang berprofesi sebagai pedagang buah-buahan sebagai matahari keluarga. Menghidupi sembilan anak tentu bukan hal yang mudah bagi Kusweni.Sang ibu harus menjalani hidup penuh tantangan. Hal inilah yang mengacu Firmanzah untuk terus belajar dan mencapai prestasi akademis yang baik untuk membahagiakan sang bunda.
”Ibu dan ayah sudah bercerai sejak saya berusia 2 tahun, sejak itulah hanya sosok ibu yang berada di keluarga inti kami,” cerita Firmanzah ketika ditemui harian Seputar Indonesia (SI) di kantornya di Dekanat FEUI,Jumat (6/8). Gemblengan sang ibu yang membuat Firmanzah meraih kesuksesan seperti sekarang. Belum genap berusia 34 tahun,Firmanzah sudah menggondol gelar profesor. Dua tahun sebelumnya, dia menyandang gelar sebagai dekan termuda dalam sejarah UI. Hampir semua jenjang pendidikan yang dilalui Firmanzah lebih cepat dari semestinya. Firmanzah menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) di FEUI hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Dia diwisuda bersamaan dengan dua angkatan sebelumnya. Namun, siapa sangka, kecepatan Firmanzah menyelesaikan pendidikan lebih didasarkan pada keinginannya agar sang ibu bisa menghadiri acara wisudanya (S-1). Firmanzah terus berjuang mencapai prestasi agar bisa membanggakan ibunya. Langkah cepat ini semakin terasa ketika dia kuliah di UI di mana kesehatan ibunya mulai terganggu. Sang ibu mulai sakitsakitan. Keadaan itulah yang semakin membangkitkan semangat Firmanzah untuk berpacu melawan waktu menyelesaikan pendidikan. Keinginan Firmanzah hanya satu. Sang ibu bisa hadir dalam acara wisudanya. Kendati begitu, Firmanzah tidak mau hanya lulus dalam waktu cepat.
Dia juga berusaha keras menjadi lulusan terbaik. Prestasi itu pun digapai Firmanzah dengan target waktu yang sesuai keinginannya. Firmanzah menjadi wisudawan teladan Departemen Manajemen FE UI. Sayangnya, cita-cita agar ibunya hadir dalam acara wisuda tak kesampaian. Tuhan punya kehendak lain. ”Pada 1998 saya adalah wisudawan tercepat dan diwusuda bersama senior-senior. Sayang, pada hari yang berbahagia itu,ibu sudah dipanggil Sang Maha Pencipta dan meninggalkan kami semua. Dia tidak sempat melihat saya diwisuda, saya tidak bisa melihatnya duduk bersama orang tua wisudawan lain,” kenang Firmanzah sambil matanya berkaca-kaca.
Sejak saat itu, hidup dengan target waktu sudah menjadi warna hidup Firmanzah meski dia mengaku tidak sengaja menerapkan target-target tersebut. Jika saat kuliah S-1 target menghadirkan ibu yang memacunya kuliah dengan cepat,berbeda dengan target yang dilakoninya pada jenjang pendidikan selanjutnya. Hanya dua tahun setelah lulus dari FEUI,Firmanzah sudah memperoleh gelar master manajemen UI sekaligus CAAE (certificat d’aptitude a l’administration des entreprises) dari Universitas Pierre Mendes-Grenoble II Prancis di tahun yang sama. Sejak 1995,MM FEUI dipercaya Pemerintah Prancis melaksanakan program gelar ganda MM-CAAE,program khusus pertama yang dikembangkan program MM FEUI.
Menurut Firmanzah, waktu cepat yang ditempuhnya kala itu disebabkan target yang memang sudah ditetapkan pemberi beasiswa sehingga mau tidak mau dia harus melakoninya. Pada 2002, kembali Firmanzah memperoleh gelar baru, yaitu DEA dari Universitas Lille, Prancis. Di universitas tersebut Firmanzah mendalami bidang strategi organisasi dan manajemen atas beasiswa dari Universitas Lille. Firmanzah sekaligus menjalani studinya pada tingkat doktoral dalam bidang manajemen internasional dan strategis di Universitas Pau and Pays De l’Adour yang diselesaikannya pada 2005 dan meraih gelar PhD.
”Semua target itu datang dengan sendirinya. Beasiswa yang saya dapat mengharuskan menyelesaikan kuliah pada jenang waktu tertentu sehingga saya tidak bisa mengelak dan harus menyelesaikannya. Tentu saya tidak mau gagal dalam kuliah sehingga harus kembali ke Tanah Air menanggung malu. Bahkan saat mengejar S-3, saya sampai muntah di perpustakaan untuk mencapai target yang telah ditentukan,” kata Firmanzah. Selepas lulus program doktoral, Firmanzah sempat mengajar setahun di Prancis hingga akhirnya memutuskan pulang ke Tanah Air dan bekerja di UI pada 2005. Dia kembali ke Indonesia atas permintaan Dekan FEUI kala itu Prof Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.
Siapa sangka tiga tahun setelahnya,tepatnya pada 14 April 2008, Firmanzah diangkat menjadi Dekan FEUI menggantikan Bambang. Kala menjabat sebagai Dekan UI,usia Firmanzah belum genap 32 tahun. Dengan sejumlah prestasi yang didapatkannya, Firmanzah menyatakan bahwa perasaannya adalah biasa-biasa saja walaupun sejak awal dia tidak pernah membayangkan atas segudang prestasi yang dicapai. ”Sejak awal saya tidak pernah membayangkan, menargetkan, atau merancang pada usia sekian akan menggapai gelar dan kedudukan. Semua berjalan dengan sendirinya.Yang saya lakukan hanyalah kerja keras dan terus belajar.
Memang kebetulan ada target yang secara tidak sengaja datang,” tambah Firmanzah. Ke depan, dengan teknologi pembelajaran yang makin canggih, Firmanzah yakin akan banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliah dengan cepat. Dia juga yakin peraih gelar profesor akan semakin muda usianya karena akses pada ilmu pengetahuan semakin mudah. (abdul malik/islahuddin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar