Minggu, 01 Juni 2008

Bom Waktu Partai Politik

Partai-partai papan tengah terus menggulirkan strategi untuk mendulang suara.Ada yang memaksimalkan jargon hingga mengubah medan tempur, dari perang udara hingga perang darat.
Tidak ada partai yang memeroleh suara mayoritas pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.Setidaknya,itulah wacana yang berkembang terkait sistem multipartai yang dianut Indonesia saat ini. Maka, setiap partai punya peluang, apalagi partai yang mempunyai potensi untuk berkembang.
Sebut saja Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dua partai papan tengah yang kini memperlihatkan tren berkembang. Kemenangan di berbagai pemilihan kepala daerah (pilkada) membuat keduanya semakin diperhitungkan.
Kedua partai ini sangat agresif membangun strategi. PAN diwakili ketua umumnya, Sutrisno Bachir (SB) terlihat agresif ”nampang” di berbagai iklan media massa, sedangkan PKS terus memaksimalkan jargon ”bersih dan peduli”.
Sebenarnya, sejak ditinggal Amien Rais, banyak kalangan meragukan eksistensi PAN.Kapasitas SB sebagai ketua umum dinilai jauh di bawah Amien Rais.Sebelum menjadi Ketua Umum PAN, SB hanya dikenal dalam kalangan pengusaha. Akhirnya, untuk memperkenalkan diri,SB harus mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah untuk beriklan dan terbukti berhasil.
Saat ini, mulai banyak masyarakat yang kenal pengusaha dari Pekalongan itu. ”PAN menerapkan political marketing, hal itu diwujudkan dalam pemasangan iklan dan safari kebangsaan yang telah dilakukan,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) PAN Zulkifli Hasan kepada SINDO. Dia mengakui iklan ketua umumnya di media massa merupakan salah satu strategi menuju 2009.
Iklan tersebut hanyalah langkah awal, masih banyak strategi lanjutan yang akan dilakukan PAN guna memenangkan Pemilu 2009. Secara garis besar, strategi PAN dibagi dalam dua wilayah, yaitu ”perang udara” dan ”perang darat”. ”Perang udara” diwujudkan dalam iklan, sedangkan ”perang darat” diwujudkan dengan usaha penguatan infrastruktur partai dari tingkat pusat hingga daerah.
Selain itu,partai memberi beban kepada masingmasing calon legislatif (caleg) untuk membuat program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Guna membangun iklim kompetisi antarcaleg,PAN tidak akan memberlakukan nomor urut sebagaimana ketentuan undang-undang dalam penentuan calon terpilih. Peraih suara terbanyak akan mewakili daerah pemilihan (dapil) sebagai anggota legislatif.
Selain peniadaan nomor urut, PAN akan aktif mengundang tokoh di luar parpol untuk bergabung menjadi caleg. Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hermawan Sulistyo menilai berbagai iklan yang ditayangkan memperlihatkan sosok SB yang tidak ”mumpuni”. Langkah SB bisa menjadi bumerang karena dalam iklan kapasitas SB semakin terlihat tidak meyakinkan.
”Dia harus banyak belajar lagi jika ingin tampil di depan masyarakat” ujar Hermawan kepada SINDO. Berbanding terbalik dengan Kiki– sapaan akrab Hermawan Sulistyo, pengamat politik Fachry Ali menilai langkah SB sudah pada jalur yang benar.Setiap tokoh politik harus mengambil langkah agar dikenal masyarakat, apalagi dari partai menengah seperti PAN.
Fachry melihat sosok SB pandai dalam memilih momen yang bisa membuat masyarakat melihatnya. Sebagai sebuah partai, menurut Kiki, PAN merupakan partai yang cukup solid.Tetapi,itu bukan sematamata karena kepemimpinan SB melainkan jumlah faksi di PAN yang makin sedikit sehingga mengurangi potensi konflik.
Menurutnya, banyak kader PAN yang kritis pada masa lalu yang meninggalkan PAN, dia mengambil contoh Faisal Basri. Strategi PAN yang aktif merekrut tokoh di luar partai dinilai efektif mendongkrak suara, contohnya pada Pilkada Lamongan. Selain PAN, PKS mulai menjadi ancaman bagi partai lain.Keberanian PKS mengusung sendiri pasangan Adang Dorojatun-Dani Anwar dalam Pilkada DKI Jakarta bisa menjadi bom waktu bagi partai besar.
Walaupun pasangan Adang-Dani kalah,perolehan suara PKS meningkat menjadi 43% dari 23% pada Pemilu Legislatif 2004. Selama ini kerja mesin politik PKS dinilai sangat efektif menggiring massa mengambang (floating masses) untuk memilih PKS. Sebagai partai kader, PKS mempunyai kader-kader yang loyal dan militan. Mereka mau bekerja untuk partai tanpa mengharapkan imbalan.
Bahkan, tidak jarang untuk kegiatan menggalang massa mereka mengeluarkan biaya sendiri. Kader PKS juga dinilai cukup soliddalammelakukankegiatansosial. ”Saya ingin garis bawahi ada keikhlasan kader dalam PKS.Untuk pemenangan pemilu, kita mengusung satu strategi, yaitu optimalisasi captive market kita,” ujar Presiden PKS Tifatul Sembiring seraya menjelaskan strategi yang dilakukan PKS.
Loyalitas kader berbuah pada kemenangan dalam berbagai pilkada, seperti di Bekasi, Depok, Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur. Menurut Tifatul, daerah-daerah itu merupakan captive market PKS.Kemenangan PKS pada pilkada di daerah sekitar Jakarta sebesar 50–60%. Meski begitu, Kiki menilai partai kader seperti PKS sulit untuk menjadi besar. Apalagi, wacana sebagai partai terbuka yang sempat mengemuka masih perlu dibuktikan lebih lanjut.
Bahkan, menurut Kiki, ada sebagian anggota Dewan Syura PKS yang kurang setuju dengan wacana partai terbuka. Sementara gerak kader dalam mendulang suara dari masa mengambang, menurutHermawan,hanya bisa efektif di Jakarta dan sekitarnya, sedangkan untuk daerah dengan kultur masyarakat yang kuat,PKS sulit bergerak.Di Jawa Timur misalnya,saat dominasi massa NU sangat kuat.
Menurutnya, sebagian masyarakat selama ini mengenal PKS tidak hanya sebagai sebuah partai, tetapi sebuah ideologi dan keyakinan yang bisa berbenturan dengan ideologi yang telah ada. Kader PKS yang dikenal didominasi ”garis keras” akan sulit diterima masyarakat lain. Namun, sebagai sebuah partai yang solid dan mempunyai mesin politik yang sangat efektif,Kiki melihat,pada 2009 jumlah suara PKS akan meningkat tetapi tidak signifikan.
Sulit bagi PAN dan PKS untuk memperoleh suara yang besar sebagaimana Golkar dan PDIP. Hal itu disebabkan massa riil dari kedua partai ini masih sangat minim. Jika mengandalkan jumlah kader tentunya suara mereka hanya sedikit, PKS mengaku hingga 2007 mempunyai 721.722 kader.
Karena itu, berbagai strategi,termasuk memperoleh suara massa,mengambang tidak bisa dinafikan. Sebagai sebuah partai yang diprediksikan akan menambahkan jumlah suara lebih bagus dari 2004, bukan tidak mungkin PKS dan PAN akan menjadi rebutan pada Pilpres 2009. Koalisi dengan partai menengah ini cukup menjanjikan bagi partai besar untuk menyumbangkan perolehan suara.Persoalannya tinggal pada kesediaan partai besar menggandeng mereka.

Tidak ada komentar: