sekadarcoretan
Rabu, 22 April 2020
Jangan coba-coba bawa amplop kosong ke pesta pernikahan di Madura ya..
Pernahkah mendengar cerita teman atau saudara kamu yang tiba-tiba mendapat amplop kosong saat membuka amplop kondangan? Peristiwa ini bisa terjadi di mana saja. Tapi tidak di Madura. Maklum, di pulau penghasil garam ini, ada tradisi unik saat pesta perkawinan. Si empunya hajat, akan langsung membuka amplop yang dia terima dari tamu. Nah loh.
Tradisi ini masih berlaku di sejumlah daerah seperti di Kecamatan Kwanyar dan juga Tragah Bangkalan. Amplop yang sudah dibuka oleh tuan rumah kemudian ditaruh di atas asap dupa. Saat itu langsung dicatat berapa jumlah uang dan nama si pemberi amplop. Tidak ada rahasia lagi. Jadi jangan coba-coba bawa amplop kosong ke pernikahan di Madura ya.
Selain tidak bisa bawa amplop kosong, ada juga tradisi balas-balasan. Jadi tamu harus membawa amplop yang nilainya minimal sama dengan pernah diberikan tuan rumah (orangtua mempelai putri) jika tamu itu pernah menggelar acara pernikahan anaknya.
Jika tidak, maka amplop yang diberikan tamu dianggap utang yang harus dibayar kelak saat tamu tersebut mengadakan pesta pernikahan. Masyarakat Madura umumnya jarang membawa kado, kecuali mereka yang sudah mendapatkan “pengaruh” dari tradisi luar pulau.
Cara ini adalah sebuah kearifan lokal yang menggambarkan orang Madura adalah masyarakat terbuka. Mereka ngomong apa saja yang ada di hati, tidak ada yang ditutup-tutupi.
Pernah dimuat di https://bit.ly/3cDH8AE
Selasa, 10 Agustus 2010
Bagi Firmanzah,Ibu adalah Matahari
Saturday, 07 August 2010
PERJALANAN hidup Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI),penuh liku. Tidak sedikit kisah memilukan yang harus dijalani pria kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976 ini untuk menggapai cita-citanya.
Peraih gelar doktor dari bidang strategic and international management dari University of Pau et Pays de’l Adour,Prancis,pada 2005 ini menghabiskan masa kecilnya hingga SMA di kota kelahirannya, Surabaya. Firmanzah dilahirkan dari keluarga sederhana, dia merupakan anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ibunya,Kusweni, seorang yang buta huruf. Kendati begitu, bagi Firmanzah sosok ibu merupakan tokoh sentral yang memengaruhi perjalanan hidupnya. Sejak usia 2 tahun Firmanzah sudah hidup tanpa ayah karena perceraian.
Sejak saat itu hingga sekarang, Firmanzah tidak mengetahui di mana keberadaan Abdul Latif, ayahnya. Yang dia tahu berdasarkan cerita ibunya, sang ayah pernah bekerja sebagai teknisi di Schlumberger, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas. Sang ibu yang membentuk karakter Firmanzah lebih menghargai orang lain. Karena itu,Firmanzah menyebut ibunya yang berprofesi sebagai pedagang buah-buahan sebagai matahari keluarga. Menghidupi sembilan anak tentu bukan hal yang mudah bagi Kusweni.Sang ibu harus menjalani hidup penuh tantangan. Hal inilah yang mengacu Firmanzah untuk terus belajar dan mencapai prestasi akademis yang baik untuk membahagiakan sang bunda.
”Ibu dan ayah sudah bercerai sejak saya berusia 2 tahun, sejak itulah hanya sosok ibu yang berada di keluarga inti kami,” cerita Firmanzah ketika ditemui harian Seputar Indonesia (SI) di kantornya di Dekanat FEUI,Jumat (6/8). Gemblengan sang ibu yang membuat Firmanzah meraih kesuksesan seperti sekarang. Belum genap berusia 34 tahun,Firmanzah sudah menggondol gelar profesor. Dua tahun sebelumnya, dia menyandang gelar sebagai dekan termuda dalam sejarah UI. Hampir semua jenjang pendidikan yang dilalui Firmanzah lebih cepat dari semestinya. Firmanzah menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) di FEUI hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Dia diwisuda bersamaan dengan dua angkatan sebelumnya. Namun, siapa sangka, kecepatan Firmanzah menyelesaikan pendidikan lebih didasarkan pada keinginannya agar sang ibu bisa menghadiri acara wisudanya (S-1). Firmanzah terus berjuang mencapai prestasi agar bisa membanggakan ibunya. Langkah cepat ini semakin terasa ketika dia kuliah di UI di mana kesehatan ibunya mulai terganggu. Sang ibu mulai sakitsakitan. Keadaan itulah yang semakin membangkitkan semangat Firmanzah untuk berpacu melawan waktu menyelesaikan pendidikan. Keinginan Firmanzah hanya satu. Sang ibu bisa hadir dalam acara wisudanya. Kendati begitu, Firmanzah tidak mau hanya lulus dalam waktu cepat.
Dia juga berusaha keras menjadi lulusan terbaik. Prestasi itu pun digapai Firmanzah dengan target waktu yang sesuai keinginannya. Firmanzah menjadi wisudawan teladan Departemen Manajemen FE UI. Sayangnya, cita-cita agar ibunya hadir dalam acara wisuda tak kesampaian. Tuhan punya kehendak lain. ”Pada 1998 saya adalah wisudawan tercepat dan diwusuda bersama senior-senior. Sayang, pada hari yang berbahagia itu,ibu sudah dipanggil Sang Maha Pencipta dan meninggalkan kami semua. Dia tidak sempat melihat saya diwisuda, saya tidak bisa melihatnya duduk bersama orang tua wisudawan lain,” kenang Firmanzah sambil matanya berkaca-kaca.
Sejak saat itu, hidup dengan target waktu sudah menjadi warna hidup Firmanzah meski dia mengaku tidak sengaja menerapkan target-target tersebut. Jika saat kuliah S-1 target menghadirkan ibu yang memacunya kuliah dengan cepat,berbeda dengan target yang dilakoninya pada jenjang pendidikan selanjutnya. Hanya dua tahun setelah lulus dari FEUI,Firmanzah sudah memperoleh gelar master manajemen UI sekaligus CAAE (certificat d’aptitude a l’administration des entreprises) dari Universitas Pierre Mendes-Grenoble II Prancis di tahun yang sama. Sejak 1995,MM FEUI dipercaya Pemerintah Prancis melaksanakan program gelar ganda MM-CAAE,program khusus pertama yang dikembangkan program MM FEUI.
Menurut Firmanzah, waktu cepat yang ditempuhnya kala itu disebabkan target yang memang sudah ditetapkan pemberi beasiswa sehingga mau tidak mau dia harus melakoninya. Pada 2002, kembali Firmanzah memperoleh gelar baru, yaitu DEA dari Universitas Lille, Prancis. Di universitas tersebut Firmanzah mendalami bidang strategi organisasi dan manajemen atas beasiswa dari Universitas Lille. Firmanzah sekaligus menjalani studinya pada tingkat doktoral dalam bidang manajemen internasional dan strategis di Universitas Pau and Pays De l’Adour yang diselesaikannya pada 2005 dan meraih gelar PhD.
”Semua target itu datang dengan sendirinya. Beasiswa yang saya dapat mengharuskan menyelesaikan kuliah pada jenang waktu tertentu sehingga saya tidak bisa mengelak dan harus menyelesaikannya. Tentu saya tidak mau gagal dalam kuliah sehingga harus kembali ke Tanah Air menanggung malu. Bahkan saat mengejar S-3, saya sampai muntah di perpustakaan untuk mencapai target yang telah ditentukan,” kata Firmanzah. Selepas lulus program doktoral, Firmanzah sempat mengajar setahun di Prancis hingga akhirnya memutuskan pulang ke Tanah Air dan bekerja di UI pada 2005. Dia kembali ke Indonesia atas permintaan Dekan FEUI kala itu Prof Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.
Siapa sangka tiga tahun setelahnya,tepatnya pada 14 April 2008, Firmanzah diangkat menjadi Dekan FEUI menggantikan Bambang. Kala menjabat sebagai Dekan UI,usia Firmanzah belum genap 32 tahun. Dengan sejumlah prestasi yang didapatkannya, Firmanzah menyatakan bahwa perasaannya adalah biasa-biasa saja walaupun sejak awal dia tidak pernah membayangkan atas segudang prestasi yang dicapai. ”Sejak awal saya tidak pernah membayangkan, menargetkan, atau merancang pada usia sekian akan menggapai gelar dan kedudukan. Semua berjalan dengan sendirinya.Yang saya lakukan hanyalah kerja keras dan terus belajar.
Memang kebetulan ada target yang secara tidak sengaja datang,” tambah Firmanzah. Ke depan, dengan teknologi pembelajaran yang makin canggih, Firmanzah yakin akan banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliah dengan cepat. Dia juga yakin peraih gelar profesor akan semakin muda usianya karena akses pada ilmu pengetahuan semakin mudah. (abdul malik/islahuddin)
PERJALANAN hidup Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI),penuh liku. Tidak sedikit kisah memilukan yang harus dijalani pria kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976 ini untuk menggapai cita-citanya.
Peraih gelar doktor dari bidang strategic and international management dari University of Pau et Pays de’l Adour,Prancis,pada 2005 ini menghabiskan masa kecilnya hingga SMA di kota kelahirannya, Surabaya. Firmanzah dilahirkan dari keluarga sederhana, dia merupakan anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ibunya,Kusweni, seorang yang buta huruf. Kendati begitu, bagi Firmanzah sosok ibu merupakan tokoh sentral yang memengaruhi perjalanan hidupnya. Sejak usia 2 tahun Firmanzah sudah hidup tanpa ayah karena perceraian.
Sejak saat itu hingga sekarang, Firmanzah tidak mengetahui di mana keberadaan Abdul Latif, ayahnya. Yang dia tahu berdasarkan cerita ibunya, sang ayah pernah bekerja sebagai teknisi di Schlumberger, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas. Sang ibu yang membentuk karakter Firmanzah lebih menghargai orang lain. Karena itu,Firmanzah menyebut ibunya yang berprofesi sebagai pedagang buah-buahan sebagai matahari keluarga. Menghidupi sembilan anak tentu bukan hal yang mudah bagi Kusweni.Sang ibu harus menjalani hidup penuh tantangan. Hal inilah yang mengacu Firmanzah untuk terus belajar dan mencapai prestasi akademis yang baik untuk membahagiakan sang bunda.
”Ibu dan ayah sudah bercerai sejak saya berusia 2 tahun, sejak itulah hanya sosok ibu yang berada di keluarga inti kami,” cerita Firmanzah ketika ditemui harian Seputar Indonesia (SI) di kantornya di Dekanat FEUI,Jumat (6/8). Gemblengan sang ibu yang membuat Firmanzah meraih kesuksesan seperti sekarang. Belum genap berusia 34 tahun,Firmanzah sudah menggondol gelar profesor. Dua tahun sebelumnya, dia menyandang gelar sebagai dekan termuda dalam sejarah UI. Hampir semua jenjang pendidikan yang dilalui Firmanzah lebih cepat dari semestinya. Firmanzah menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) di FEUI hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Dia diwisuda bersamaan dengan dua angkatan sebelumnya. Namun, siapa sangka, kecepatan Firmanzah menyelesaikan pendidikan lebih didasarkan pada keinginannya agar sang ibu bisa menghadiri acara wisudanya (S-1). Firmanzah terus berjuang mencapai prestasi agar bisa membanggakan ibunya. Langkah cepat ini semakin terasa ketika dia kuliah di UI di mana kesehatan ibunya mulai terganggu. Sang ibu mulai sakitsakitan. Keadaan itulah yang semakin membangkitkan semangat Firmanzah untuk berpacu melawan waktu menyelesaikan pendidikan. Keinginan Firmanzah hanya satu. Sang ibu bisa hadir dalam acara wisudanya. Kendati begitu, Firmanzah tidak mau hanya lulus dalam waktu cepat.
Dia juga berusaha keras menjadi lulusan terbaik. Prestasi itu pun digapai Firmanzah dengan target waktu yang sesuai keinginannya. Firmanzah menjadi wisudawan teladan Departemen Manajemen FE UI. Sayangnya, cita-cita agar ibunya hadir dalam acara wisuda tak kesampaian. Tuhan punya kehendak lain. ”Pada 1998 saya adalah wisudawan tercepat dan diwusuda bersama senior-senior. Sayang, pada hari yang berbahagia itu,ibu sudah dipanggil Sang Maha Pencipta dan meninggalkan kami semua. Dia tidak sempat melihat saya diwisuda, saya tidak bisa melihatnya duduk bersama orang tua wisudawan lain,” kenang Firmanzah sambil matanya berkaca-kaca.
Sejak saat itu, hidup dengan target waktu sudah menjadi warna hidup Firmanzah meski dia mengaku tidak sengaja menerapkan target-target tersebut. Jika saat kuliah S-1 target menghadirkan ibu yang memacunya kuliah dengan cepat,berbeda dengan target yang dilakoninya pada jenjang pendidikan selanjutnya. Hanya dua tahun setelah lulus dari FEUI,Firmanzah sudah memperoleh gelar master manajemen UI sekaligus CAAE (certificat d’aptitude a l’administration des entreprises) dari Universitas Pierre Mendes-Grenoble II Prancis di tahun yang sama. Sejak 1995,MM FEUI dipercaya Pemerintah Prancis melaksanakan program gelar ganda MM-CAAE,program khusus pertama yang dikembangkan program MM FEUI.
Menurut Firmanzah, waktu cepat yang ditempuhnya kala itu disebabkan target yang memang sudah ditetapkan pemberi beasiswa sehingga mau tidak mau dia harus melakoninya. Pada 2002, kembali Firmanzah memperoleh gelar baru, yaitu DEA dari Universitas Lille, Prancis. Di universitas tersebut Firmanzah mendalami bidang strategi organisasi dan manajemen atas beasiswa dari Universitas Lille. Firmanzah sekaligus menjalani studinya pada tingkat doktoral dalam bidang manajemen internasional dan strategis di Universitas Pau and Pays De l’Adour yang diselesaikannya pada 2005 dan meraih gelar PhD.
”Semua target itu datang dengan sendirinya. Beasiswa yang saya dapat mengharuskan menyelesaikan kuliah pada jenang waktu tertentu sehingga saya tidak bisa mengelak dan harus menyelesaikannya. Tentu saya tidak mau gagal dalam kuliah sehingga harus kembali ke Tanah Air menanggung malu. Bahkan saat mengejar S-3, saya sampai muntah di perpustakaan untuk mencapai target yang telah ditentukan,” kata Firmanzah. Selepas lulus program doktoral, Firmanzah sempat mengajar setahun di Prancis hingga akhirnya memutuskan pulang ke Tanah Air dan bekerja di UI pada 2005. Dia kembali ke Indonesia atas permintaan Dekan FEUI kala itu Prof Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.
Siapa sangka tiga tahun setelahnya,tepatnya pada 14 April 2008, Firmanzah diangkat menjadi Dekan FEUI menggantikan Bambang. Kala menjabat sebagai Dekan UI,usia Firmanzah belum genap 32 tahun. Dengan sejumlah prestasi yang didapatkannya, Firmanzah menyatakan bahwa perasaannya adalah biasa-biasa saja walaupun sejak awal dia tidak pernah membayangkan atas segudang prestasi yang dicapai. ”Sejak awal saya tidak pernah membayangkan, menargetkan, atau merancang pada usia sekian akan menggapai gelar dan kedudukan. Semua berjalan dengan sendirinya.Yang saya lakukan hanyalah kerja keras dan terus belajar.
Memang kebetulan ada target yang secara tidak sengaja datang,” tambah Firmanzah. Ke depan, dengan teknologi pembelajaran yang makin canggih, Firmanzah yakin akan banyak mahasiswa yang mampu menyelesaikan kuliah dengan cepat. Dia juga yakin peraih gelar profesor akan semakin muda usianya karena akses pada ilmu pengetahuan semakin mudah. (abdul malik/islahuddin)
Minggu, 01 Juni 2008
Bom Waktu Partai Politik
Partai-partai papan tengah terus menggulirkan strategi untuk mendulang suara.Ada yang memaksimalkan jargon hingga mengubah medan tempur, dari perang udara hingga perang darat.
Tidak ada partai yang memeroleh suara mayoritas pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.Setidaknya,itulah wacana yang berkembang terkait sistem multipartai yang dianut Indonesia saat ini. Maka, setiap partai punya peluang, apalagi partai yang mempunyai potensi untuk berkembang.
Sebut saja Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dua partai papan tengah yang kini memperlihatkan tren berkembang. Kemenangan di berbagai pemilihan kepala daerah (pilkada) membuat keduanya semakin diperhitungkan.
Kedua partai ini sangat agresif membangun strategi. PAN diwakili ketua umumnya, Sutrisno Bachir (SB) terlihat agresif ”nampang” di berbagai iklan media massa, sedangkan PKS terus memaksimalkan jargon ”bersih dan peduli”.
Sebenarnya, sejak ditinggal Amien Rais, banyak kalangan meragukan eksistensi PAN.Kapasitas SB sebagai ketua umum dinilai jauh di bawah Amien Rais.Sebelum menjadi Ketua Umum PAN, SB hanya dikenal dalam kalangan pengusaha. Akhirnya, untuk memperkenalkan diri,SB harus mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah untuk beriklan dan terbukti berhasil.
Saat ini, mulai banyak masyarakat yang kenal pengusaha dari Pekalongan itu. ”PAN menerapkan political marketing, hal itu diwujudkan dalam pemasangan iklan dan safari kebangsaan yang telah dilakukan,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) PAN Zulkifli Hasan kepada SINDO. Dia mengakui iklan ketua umumnya di media massa merupakan salah satu strategi menuju 2009.
Iklan tersebut hanyalah langkah awal, masih banyak strategi lanjutan yang akan dilakukan PAN guna memenangkan Pemilu 2009. Secara garis besar, strategi PAN dibagi dalam dua wilayah, yaitu ”perang udara” dan ”perang darat”. ”Perang udara” diwujudkan dalam iklan, sedangkan ”perang darat” diwujudkan dengan usaha penguatan infrastruktur partai dari tingkat pusat hingga daerah.
Selain itu,partai memberi beban kepada masingmasing calon legislatif (caleg) untuk membuat program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Guna membangun iklim kompetisi antarcaleg,PAN tidak akan memberlakukan nomor urut sebagaimana ketentuan undang-undang dalam penentuan calon terpilih. Peraih suara terbanyak akan mewakili daerah pemilihan (dapil) sebagai anggota legislatif.
Selain peniadaan nomor urut, PAN akan aktif mengundang tokoh di luar parpol untuk bergabung menjadi caleg. Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hermawan Sulistyo menilai berbagai iklan yang ditayangkan memperlihatkan sosok SB yang tidak ”mumpuni”. Langkah SB bisa menjadi bumerang karena dalam iklan kapasitas SB semakin terlihat tidak meyakinkan.
”Dia harus banyak belajar lagi jika ingin tampil di depan masyarakat” ujar Hermawan kepada SINDO. Berbanding terbalik dengan Kiki– sapaan akrab Hermawan Sulistyo, pengamat politik Fachry Ali menilai langkah SB sudah pada jalur yang benar.Setiap tokoh politik harus mengambil langkah agar dikenal masyarakat, apalagi dari partai menengah seperti PAN.
Fachry melihat sosok SB pandai dalam memilih momen yang bisa membuat masyarakat melihatnya. Sebagai sebuah partai, menurut Kiki, PAN merupakan partai yang cukup solid.Tetapi,itu bukan sematamata karena kepemimpinan SB melainkan jumlah faksi di PAN yang makin sedikit sehingga mengurangi potensi konflik.
Menurutnya, banyak kader PAN yang kritis pada masa lalu yang meninggalkan PAN, dia mengambil contoh Faisal Basri. Strategi PAN yang aktif merekrut tokoh di luar partai dinilai efektif mendongkrak suara, contohnya pada Pilkada Lamongan. Selain PAN, PKS mulai menjadi ancaman bagi partai lain.Keberanian PKS mengusung sendiri pasangan Adang Dorojatun-Dani Anwar dalam Pilkada DKI Jakarta bisa menjadi bom waktu bagi partai besar.
Walaupun pasangan Adang-Dani kalah,perolehan suara PKS meningkat menjadi 43% dari 23% pada Pemilu Legislatif 2004. Selama ini kerja mesin politik PKS dinilai sangat efektif menggiring massa mengambang (floating masses) untuk memilih PKS. Sebagai partai kader, PKS mempunyai kader-kader yang loyal dan militan. Mereka mau bekerja untuk partai tanpa mengharapkan imbalan.
Bahkan, tidak jarang untuk kegiatan menggalang massa mereka mengeluarkan biaya sendiri. Kader PKS juga dinilai cukup soliddalammelakukankegiatansosial. ”Saya ingin garis bawahi ada keikhlasan kader dalam PKS.Untuk pemenangan pemilu, kita mengusung satu strategi, yaitu optimalisasi captive market kita,” ujar Presiden PKS Tifatul Sembiring seraya menjelaskan strategi yang dilakukan PKS.
Loyalitas kader berbuah pada kemenangan dalam berbagai pilkada, seperti di Bekasi, Depok, Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur. Menurut Tifatul, daerah-daerah itu merupakan captive market PKS.Kemenangan PKS pada pilkada di daerah sekitar Jakarta sebesar 50–60%. Meski begitu, Kiki menilai partai kader seperti PKS sulit untuk menjadi besar. Apalagi, wacana sebagai partai terbuka yang sempat mengemuka masih perlu dibuktikan lebih lanjut.
Bahkan, menurut Kiki, ada sebagian anggota Dewan Syura PKS yang kurang setuju dengan wacana partai terbuka. Sementara gerak kader dalam mendulang suara dari masa mengambang, menurutHermawan,hanya bisa efektif di Jakarta dan sekitarnya, sedangkan untuk daerah dengan kultur masyarakat yang kuat,PKS sulit bergerak.Di Jawa Timur misalnya,saat dominasi massa NU sangat kuat.
Menurutnya, sebagian masyarakat selama ini mengenal PKS tidak hanya sebagai sebuah partai, tetapi sebuah ideologi dan keyakinan yang bisa berbenturan dengan ideologi yang telah ada. Kader PKS yang dikenal didominasi ”garis keras” akan sulit diterima masyarakat lain. Namun, sebagai sebuah partai yang solid dan mempunyai mesin politik yang sangat efektif,Kiki melihat,pada 2009 jumlah suara PKS akan meningkat tetapi tidak signifikan.
Sulit bagi PAN dan PKS untuk memperoleh suara yang besar sebagaimana Golkar dan PDIP. Hal itu disebabkan massa riil dari kedua partai ini masih sangat minim. Jika mengandalkan jumlah kader tentunya suara mereka hanya sedikit, PKS mengaku hingga 2007 mempunyai 721.722 kader.
Karena itu, berbagai strategi,termasuk memperoleh suara massa,mengambang tidak bisa dinafikan. Sebagai sebuah partai yang diprediksikan akan menambahkan jumlah suara lebih bagus dari 2004, bukan tidak mungkin PKS dan PAN akan menjadi rebutan pada Pilpres 2009. Koalisi dengan partai menengah ini cukup menjanjikan bagi partai besar untuk menyumbangkan perolehan suara.Persoalannya tinggal pada kesediaan partai besar menggandeng mereka.
Tidak ada partai yang memeroleh suara mayoritas pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.Setidaknya,itulah wacana yang berkembang terkait sistem multipartai yang dianut Indonesia saat ini. Maka, setiap partai punya peluang, apalagi partai yang mempunyai potensi untuk berkembang.
Sebut saja Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dua partai papan tengah yang kini memperlihatkan tren berkembang. Kemenangan di berbagai pemilihan kepala daerah (pilkada) membuat keduanya semakin diperhitungkan.
Kedua partai ini sangat agresif membangun strategi. PAN diwakili ketua umumnya, Sutrisno Bachir (SB) terlihat agresif ”nampang” di berbagai iklan media massa, sedangkan PKS terus memaksimalkan jargon ”bersih dan peduli”.
Sebenarnya, sejak ditinggal Amien Rais, banyak kalangan meragukan eksistensi PAN.Kapasitas SB sebagai ketua umum dinilai jauh di bawah Amien Rais.Sebelum menjadi Ketua Umum PAN, SB hanya dikenal dalam kalangan pengusaha. Akhirnya, untuk memperkenalkan diri,SB harus mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah untuk beriklan dan terbukti berhasil.
Saat ini, mulai banyak masyarakat yang kenal pengusaha dari Pekalongan itu. ”PAN menerapkan political marketing, hal itu diwujudkan dalam pemasangan iklan dan safari kebangsaan yang telah dilakukan,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) PAN Zulkifli Hasan kepada SINDO. Dia mengakui iklan ketua umumnya di media massa merupakan salah satu strategi menuju 2009.
Iklan tersebut hanyalah langkah awal, masih banyak strategi lanjutan yang akan dilakukan PAN guna memenangkan Pemilu 2009. Secara garis besar, strategi PAN dibagi dalam dua wilayah, yaitu ”perang udara” dan ”perang darat”. ”Perang udara” diwujudkan dalam iklan, sedangkan ”perang darat” diwujudkan dengan usaha penguatan infrastruktur partai dari tingkat pusat hingga daerah.
Selain itu,partai memberi beban kepada masingmasing calon legislatif (caleg) untuk membuat program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Guna membangun iklim kompetisi antarcaleg,PAN tidak akan memberlakukan nomor urut sebagaimana ketentuan undang-undang dalam penentuan calon terpilih. Peraih suara terbanyak akan mewakili daerah pemilihan (dapil) sebagai anggota legislatif.
Selain peniadaan nomor urut, PAN akan aktif mengundang tokoh di luar parpol untuk bergabung menjadi caleg. Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Hermawan Sulistyo menilai berbagai iklan yang ditayangkan memperlihatkan sosok SB yang tidak ”mumpuni”. Langkah SB bisa menjadi bumerang karena dalam iklan kapasitas SB semakin terlihat tidak meyakinkan.
”Dia harus banyak belajar lagi jika ingin tampil di depan masyarakat” ujar Hermawan kepada SINDO. Berbanding terbalik dengan Kiki– sapaan akrab Hermawan Sulistyo, pengamat politik Fachry Ali menilai langkah SB sudah pada jalur yang benar.Setiap tokoh politik harus mengambil langkah agar dikenal masyarakat, apalagi dari partai menengah seperti PAN.
Fachry melihat sosok SB pandai dalam memilih momen yang bisa membuat masyarakat melihatnya. Sebagai sebuah partai, menurut Kiki, PAN merupakan partai yang cukup solid.Tetapi,itu bukan sematamata karena kepemimpinan SB melainkan jumlah faksi di PAN yang makin sedikit sehingga mengurangi potensi konflik.
Menurutnya, banyak kader PAN yang kritis pada masa lalu yang meninggalkan PAN, dia mengambil contoh Faisal Basri. Strategi PAN yang aktif merekrut tokoh di luar partai dinilai efektif mendongkrak suara, contohnya pada Pilkada Lamongan. Selain PAN, PKS mulai menjadi ancaman bagi partai lain.Keberanian PKS mengusung sendiri pasangan Adang Dorojatun-Dani Anwar dalam Pilkada DKI Jakarta bisa menjadi bom waktu bagi partai besar.
Walaupun pasangan Adang-Dani kalah,perolehan suara PKS meningkat menjadi 43% dari 23% pada Pemilu Legislatif 2004. Selama ini kerja mesin politik PKS dinilai sangat efektif menggiring massa mengambang (floating masses) untuk memilih PKS. Sebagai partai kader, PKS mempunyai kader-kader yang loyal dan militan. Mereka mau bekerja untuk partai tanpa mengharapkan imbalan.
Bahkan, tidak jarang untuk kegiatan menggalang massa mereka mengeluarkan biaya sendiri. Kader PKS juga dinilai cukup soliddalammelakukankegiatansosial. ”Saya ingin garis bawahi ada keikhlasan kader dalam PKS.Untuk pemenangan pemilu, kita mengusung satu strategi, yaitu optimalisasi captive market kita,” ujar Presiden PKS Tifatul Sembiring seraya menjelaskan strategi yang dilakukan PKS.
Loyalitas kader berbuah pada kemenangan dalam berbagai pilkada, seperti di Bekasi, Depok, Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur. Menurut Tifatul, daerah-daerah itu merupakan captive market PKS.Kemenangan PKS pada pilkada di daerah sekitar Jakarta sebesar 50–60%. Meski begitu, Kiki menilai partai kader seperti PKS sulit untuk menjadi besar. Apalagi, wacana sebagai partai terbuka yang sempat mengemuka masih perlu dibuktikan lebih lanjut.
Bahkan, menurut Kiki, ada sebagian anggota Dewan Syura PKS yang kurang setuju dengan wacana partai terbuka. Sementara gerak kader dalam mendulang suara dari masa mengambang, menurutHermawan,hanya bisa efektif di Jakarta dan sekitarnya, sedangkan untuk daerah dengan kultur masyarakat yang kuat,PKS sulit bergerak.Di Jawa Timur misalnya,saat dominasi massa NU sangat kuat.
Menurutnya, sebagian masyarakat selama ini mengenal PKS tidak hanya sebagai sebuah partai, tetapi sebuah ideologi dan keyakinan yang bisa berbenturan dengan ideologi yang telah ada. Kader PKS yang dikenal didominasi ”garis keras” akan sulit diterima masyarakat lain. Namun, sebagai sebuah partai yang solid dan mempunyai mesin politik yang sangat efektif,Kiki melihat,pada 2009 jumlah suara PKS akan meningkat tetapi tidak signifikan.
Sulit bagi PAN dan PKS untuk memperoleh suara yang besar sebagaimana Golkar dan PDIP. Hal itu disebabkan massa riil dari kedua partai ini masih sangat minim. Jika mengandalkan jumlah kader tentunya suara mereka hanya sedikit, PKS mengaku hingga 2007 mempunyai 721.722 kader.
Karena itu, berbagai strategi,termasuk memperoleh suara massa,mengambang tidak bisa dinafikan. Sebagai sebuah partai yang diprediksikan akan menambahkan jumlah suara lebih bagus dari 2004, bukan tidak mungkin PKS dan PAN akan menjadi rebutan pada Pilpres 2009. Koalisi dengan partai menengah ini cukup menjanjikan bagi partai besar untuk menyumbangkan perolehan suara.Persoalannya tinggal pada kesediaan partai besar menggandeng mereka.
Langganan:
Komentar (Atom)
